9.5.11

Cerpen 100 Kata Pertamaku

Ini cerpen 100 kata pertamaku, tapi belum dikasih judul #kebingungan nyari judulnya, ahaha
Ditunggu saran dan kritiknya yaa :D, Enjoy! :D

------------------------------------------------------------------------------------

thisiscasey          : ra, besok aku pulang
tyaraishere         : kenapa mendadak?
thisiscasey          : mempersiapkan pernikahan, 2 bulan lagi
tyaraishere         : pernikahanmu?
thisiscasey          : ya
tyaraishere         : kamu baru memberitahuku sekarang, tega sekali!  Siapa calonnya?
thisiscasey          : kamu sudah mengenalnya
tyaraishere         : benarkah?  siapa???

...                                                            

Keheningan menyeruak.

Sepuluh tahun bersahabat dengan Casey, belum pernah dia menceritakan hal seperti ini. Siapa wanita itu?

Tunggu. Kenapa hatiku terasa begitu dingin seperti winter di Alaska secara tiba-tiba?

...

Ibu mengetuk pintu dan memasuki kamarku.

“Sayang, besok keluarga Casey akan datang untuk melamarmu..”

Laptopku berbunyi.

thisiscasey          : :)

Menghangat seketika, ada yang menetes dari mataku, berkilau.

5.5.11

What I get from Middleton Family..

Sobat semua pastinya pada tau kan kalo tanggal 29 April lalu, Prince William menikah sama Kate Middleton? Hehe.. Ya iyalah ya, secara, setiap channel di televisi pada rame menayangkan ‘Royal Wedding’ itu, bahkan dari jauh-jauh hari sebelum hari-H, belum lagi berita-berita di internet. Hmmm.. Tau ga, sob, keluarga Middleton menyumbangkan dana sebesar USD 100ribu atau Rp 859.750.000), ih waawww.. Tapi kita disini ga akan ngebahas betapa royalnya pernikahan itu kok, sob :D

Nah.. Setelah penulis menelusuri berbagai referensi, ada positive things yang bisa diambil sebagai bahan pembelajaran buat kita dari keluarga Middleton. Apaan emang?

Gini, guys.. Dulu keluarga Middleton ga sekaya dan sejaya sekarang. Ibunda Kate berasal dari keluarga penambang batu bara di Durham sedangkan ayahnya berasal dari keluarga pedagang wol yang lebih baik taraf ekonominya.

Kakeknya Kate bekerja sebagai sopir kemudian pegawai bangunan, bisa ditebak dong, sob, kalo mereka bukan dari keluarga yang bergelimang harta? ^^ Karena itulah, Carole (ibunya Kate) punya ambisius yang cukup tinggi buat memperbaiki kehidupan keluarganya. Beliau senantiasa bekerja keras, awalnya bekerja sebagai pramugari (dan di pekerjaan ini pula ketemu sama ayahnya Kate alias Michael, karena beliau adalah seorang pilot).

Setelah itu, Carole mulai mendulang sukses saat punya bisnis pengantaran barang. Then, sepasang suami istri itu membuat usaha kecil-kecilan pada tahun 1987, Party Pieces, jualan pernak-pernik pesta dengan harga murah. Pada tahun 2002, laba perusahaan mereka meningkat dengan pesat setelah meluncurkan situs supaya bisa jual-beli online, sehingga bisa menyekolahkan anak-anaknya di sekolah serta kampus yang elite.

Tapi, meskipun udah tajir, Michael ga lantas jadi terlarut dalam kekayaan dan kemewahan, sebaliknya, kesederhanaan tetap melekat pada dirinya. Hal inilah yang diwarisi Kate, sehingga dia juga sederhana dalam kesehariannya :)

Coba, sob.. Kalo kita renungkan sesaat, seandainya mereka ga bekerja keras dan pasrah aja tanpa melakukan usaha apapun, mungkin keturunannya ga ada yang bakal nikah sama seorang anggota keluarga kerajaan, karena anggota keluarga kerajaan ga akan sembarangan milih menantu..

Begitu pun dengan kita, sob. Kalo kita punya mimpi, cita-cita, kita ga usah skeptis dan apatis dulu deh, rugiiiiiiiiiii... Justru sebaliknya, kita harus ‘tahan banting’ kalo mau sukses dan menggapai impian-impian kita. Orangtuanya Kate Middleton aja bisa kok berjuang dari bawah, tentunya kita juga bisa dong, apalagi kita masih muda; lebih kreatif dan energik :D

So.. Ga ada yang ga mungkin, sob! Selama ‘hayat masih di kandung badan’, hukumnya WAJIB bagi kita buat ikhtiar semaksimal mungkin, jauh-jauh deh dari hal-hal negatif. Misalnya buat yang pengen jadi pengusaha sukses, kemudian ada orang lain yang bilang ‘ah.. lu ga mungkin bisa jadi pengusaha sukses, selamat ngayal aja deh, lu!’, jangan langsung down! Tapi malah jadi pemacu buat kita membuktikan bahwa kita bisa, kok!

Semangat buat mencapai sukses itu kadang emang mengalami pasang-surut, sobat.. Tapi inget-inget lagi deh surat Ar-Ra’d ayat 11, “Allah tidak akan mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan pada diri mereka sendiri”, makanya kita harus pake metode DUIT alias Do’a, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal dalam perjalanan menuju impian-impian kita itu, guys :D

BE POSITIVE TO REACH OUR DREAMS!

21.4.11

Sedikit Ocehan tentang Kebersihan

Hari ini kami sebagai mahasiswa jurusan Pendidkan Geografi mengadakan Aksi Hari Bumi, hari bumi nya sih tanggal 22 April, tapi karena tanggal merah, jadi kami memperingati hari buminya tanggal 21 April. Hehehe.

Aksinya itu berupa orasi dan aksi nyata membersihkan sampah di sekitar kampus UPI yang ternyata eh ternyata banyak sekali. Hohoho.Beberapa kali juga kami mendapat pertanyaan menggelitik emosi dari para pedagang (karena hari ini wisuda kampus daerah, jadi banyak pedagang gitu deh, mirip di gasibu). Such as, "Neng, jauh-jauh kuliah di Bandung kok cuma jadi tukang sampah?" #gue asli bandung, pak :P
Hahahaha, rasanya pengen nimpuk itu pedagang, astaghfirullah --"

Ahh.. Miris sekali rasanya, saya dan teman-teman amat sangat heran, mengapa orang-orang senang sekali membuang sampah seenaknya? Sungguh, bukankah kampus adalah tempat 'berkeliarannya' manusia-manusia terpelajar dan terpandang? ><"

Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman? Lantas bila sebagian dari keimanannya saja sudah tidak dipedulikan lagi, jangan salahkan bila dewasa ini terjadi dekadensi akhlak dan krisis keimanan yang menuju taraf 'akut' di negeri ini, heuheuheu.

Selain itu juga, menurut penulis yang imut dan baik hati ini #masih sempet narsis XD, 'menyimpan' sampah pada tempatnya juga berhubungan dengan rasa estetika. Karena setiap manusia memiliki rasa estetika, maka membuang sampah sembarangan dan mengotori lingkungan tentu tidak selaras dengan rasa estetika itu sendiri bukan? Hmm.. Ternyata, degradasi rasa estetika pun sedang terjadi di bumi pertiwi ini x(

Okay,

Sudah saatnya kita melakukan perubahan, kawan! Mulai aja yuk dari sendiri, detik ini juga kita 'simpan' sampah pada tempatnya (kalo bisa sih pisahkan juga sampah organik dengan anorganik), terus ya sebisa mungkin pungut sampah yang kita temui kalo lagi jalan misalnya, dan masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan.

Come on, guys! Kalo bukan kita yang beraksi, lalu siapa lagi?
WE ARE THE AGENT OF CHANGE!!!

Let's save our earth! \^o^/


Bandung, 18 Jumadil Awal 1432 H


7.3.11

Masihkah Kita Enggan untuk Memberi?

Sepulang kuliah, saya bertemu dengan salah seorang kawan yang inspiratif dan tergolong imut, but of course, penulis note inilah yang paling imut, hahaha #dezigh! langsung ditimpuk rame-rame pake sendal sama para pembaca XD

Dia habis berbelanja dari sebuah pasar swalayan.. dan bercerita tentang hal yang membuatnya miris sekaligus takjub.

Selesai belanja, ada anak kecil penjual cireng mentah yang menawarkan dagangannya, cirengnya itu dibawa dengan cara dipanggul gitu. Kebetulan disitu juga ada nenek-nenek, tapi belum begitu renta, dan sudah berdiri sejak lama di depan swalayan sambil megang mangkuk di tangannya #ngemis maksudnya.

And you know, si nenek bilang gini sama anak kecil itu, “Kaditu sia! Kaditu jauh-jauh, ulah ngahalangan urang!” (“Kesana kamu! Kesana jauh-jauh, jangan menghalangi saya!”) dengan nada kasar dan mata melebar.

Woww.. terang aja temen saya itu langsung ilfeel sama si nenek, dan si anak kecil langsung mengikuti dia yang berjalan menuju tempat penitipan barang.

“Tunggu sebentar ya, de” kata temen saya.

Setelah mengambil tas, temen saya langsung ngambil uang Rp 5.000,00 buat si anak kecil tadi, karena temen saya itu emang niat mau belajar mengeluarkan zakat atas uang mingguan yang diterimanya (2,5% x Rp 200.000,00 = Rp 5.000,00). Tapi ehh.. anak kecilnya malah menghilang.

Setelah itu, dia muter-muter dulu nyari sang bocah, poko’nya dia ngga mau pulang dulu sebelum ketemu anak itu dan ngasih uangnya. Wehehe.. dan, voila! Ketemu deh sama anak yang tadi,

“Ini buat ade aja :)”

Si ade nya ‘cengo’, sambil bilang makasih pelan-pelan. Temen saya pun pergi dengan hati tenang #cirengnya mah ngga beli, hehehe.

“Emang ga sayang gitu ngasih Rp 5.000,00?” #halah, pertanyaan konyol, na -,-“ secara, uang segitu cukup buat ongkos dari cicaheum ke kampus atau 1 porsi makan di gerlong :P itungan pisan si tina, adatna tukang pulsa ini mah >.<”

“Ngga.. Malah sepertinya yang saya kasih itu ngga sebanding sama pelajaran yang udah anak itu kasih ke saya secara ngga langsung. Saya jadi tersadar untuk senantiasa bersyukur atas apa yang Allah kasih ke saya saat ini, saya punya orangtua yang masih mampu untuk membiayai segala kebutuhan saya, sedangkan anak itu, bahkan untuk makan sehari-hari pun mungkin tak menentu. Tapi saya berdo’a, semoga Allah senantiasa melindungi anak itu dan menjadikannya seorang ksatria sejati yang berguna bagi ummat, karena Allah tau seberapa besar perjuangan dan kegigihannya di usia yang masih sangat belia..”

Subhanallah.. sekarang giliran saya yang ‘cengo’ mendengar perkataan temen saya tersebut. Eta pisaaannn... Kalo lagi futur, bener-bener rasa syukur teh serasa menguap tanpa sisa, astagfirullah..

Setelah itu, di perjalanan pulang, saya merenungi kisah temen saya tadi, hmm.. jangan segan deh kalo mau memberi sama orang lain, toh sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya, bukan? Sekecil apapun manfaat itu :D

Ehh.. kenapa serasa ada yang janggal ya? #terlintas di sela-sela renungan di angkot

Huaaaaaaa..... Tabung ‘ajaib’ berisi buku gambar A3 ku ketinggalan di lab. Lantai 3!!! Astagfirullahaladzim, naaaaa >o<

Gaswat, itu buku gambar buat matkul kosmo, ‘separuh jiwaku’ T.T Aihhh... Semoga masih jadi rezeki saya, sehingga besok bisa ketemu, aamiin >.< 

One more important point, guys, syukurilah hidup anda yang tidak dipenuhi hal-hal konyol seperti yang dialami penulis imut ini setiap harinya #lagi stress, masiiiihhhh aja narsis, plis deh, na :P

Epilognya rada nyeleneh, ya? Hehe. Maaf ^^v

Semoga ada hikmah yang bisa diambil dari note ini dan diimplementasikan dalam kehidupan sahabat-sahabat sekalian.


So, masih enggan untuk memberi? Hmm.. Ngga lha, ya! :D

Wallahu a’lam bisshawab.

2 Rabi’ul Akhir 1432 H

1.3.11

Refleksi Sederhana :)

Bismillah...

Ada masa dimana dalam menjalani hidupnya, jalan yang ditempuh manusia tidak akan selamanya mulus dan bebas hambatan. Kita harus memiliki persiapan ekstra untuk menempuh jalan yang lebih terjal, berliku, dan tidak nyaman. Kadang karena kesalahan sebesar atom saja, kita akan mudah rapuh, jatuh dan kesakitan, namun mau tak mau kita harus segera bangkit.

Itulah saat dimana diri kita membutuhkan sebuah perbaikan...

Karena alangkah lebih baik menjadi manusia yang senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas dirinya meskipun hanya setitik demi setitik, daripada menjadi manusia yang sudah merasa cukup baik, bahkan sempurna, hingga lalai karena berleha-leha.

Bukankah sebuah intan itu harus digosok dengan sangat keras sehingga menjadi batu mulia yang kilaunya tak tertandingi sejagad raya? Sehingga perbaikan-perbaikan ini pun semoga menjadi anak tangga menuju generasi keemasan dengan peradaban yang luar biasa di masa depan, aamiin :)

Semangat!!! \^o^/

“... Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri ...” 
(Q.S. Ar-Ra’d : 11)

Wallahu a’lam bisshawab.



Sebuah refleksi sederhana :)

26 Rabi’ul Awal 1432 H


31.1.11

Elegi


Saat ini...
Aku merindukan diriku yang dulu.
Dimana aku bisa dengan bebasnya bermimpi menembus cakrawala tanpa menghiraukan hambatan-hambatan yang kan menghadangku.
Saat aku memakai seragam putih-blue black dengan segala perilaku kebocahannya. Dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu akan segala hal. Aku yang selalu berpikir dengan penuh rasionalitas setiap waktu.
Beranjak memakai seragam putih-abu, kutemukan secercah cahaya disana. Cahaya yang sedikit demi sedikit memudarkan rasio dan ego yang kupegang teguh sebagai landasan atas setiap apa yang kukerjakan.
Cahaya itu...
Membuatku mengenal orang-orang yang luar biasa, orang-orang yang mengingatkanku akan surga. Aku semakin optimis, dan kali itu aku mulai merenda kembali mimpi-mimpiku pada jalan yang sebelumnya belum pernah ku tapakkan kakiku diatasnya.
Namun kini...
Kekosongan kerapkali menyapaku. Membuatku gusar atas diriku yang semakin hari semakin tak konsisten. Sehingga rasanya hidup pun semakin tak jelas saja, tak terorganisir.
Rangkaian mimpi itu pun crash untuk sesaat.
Bukan, ini bukan cerita penyesalan. Namun hanya sedikit luapan kekecewaan pada diriku sendiri yang dapat tertuangkan.
Perlahan kusadari...
Itulah efek dari keimanan yang sedang turun. Kata orang, keimanan itu akan senantiasa naik-turun dalam kehidupan manusia.
Ahh...
Kau tahu, pada saat aku bersama orang-orang hebat itu, aku merasa on fire lagi. Tapi saat jarak dan waktu itu mulai memisahkan kami, aku kembali merasa jatuh.
Namun aku juga tak mau disebut slave, yang kebaikannya bergantung pada orang lain.
Dan aku teringat kembali, bagi seorang Muslim, yang saat ini tak lebih baik dari yang lalu, adalah merugi! Sangat merugi!
Astagfirullahal’adzim...
Inilah akibat dari seorang hamba yang seringkali lupa untuk mengingat-Nya, tidak mengindahkan segala titah-Nya, dan kadar pengabdiannya masih sangat jauh dari predikat cukup sekalipun.
Taubat... It’s the explanation.
“Segera bertaubat dari segala dosa wajib segera dilakukan dan tidak boleh ditunda. Jika taubat ditunda, pelakunya bermaksiat kepada Allah akibat penundaan taubatnya. Jika ia bertaubat, ia masih punya kewajiban taubat yang lain, yaitu taubat dari penundaan taubatnya. Hal ini jarang sekali terbesit di jiwa orang yang bertaubat!” (Ibnu Qayyim rahimahumullâh)
...
Lalu tulisan seorang sahabat dalam buku agenda lama ku kembali tersingkap...
Qum Fa andzir!
Bangkit dan guncangkan
Abaikan para pendengki si juru fitnah
Lemparkan selimut kemalasan
Datangi gudang-gudang ilmu
Masuki gudang-gudang menjulang
Temukan makna hidup yang hilang
Pakailah jubah keberanianmu yang paling cemerlang
Karena engkau bukanlah pengemis yang merintih
Engkaulah cahaya mentari tak pilih kasih
Jangan tergoda butiran pasir berserakan,
Yang membuat ombak samudera tertawa canda
Jadilah batukarang!
Kukuh tangguh, menatap gagah, menyongsong gigih hempasan ombak dengan tertawa
Walau kepedihan menyayat raga,
Tak perlu menghamba diri pada dunia
Bagi mujahid sejati,
Lebih baik jadi singa sehari daripada domba seribu hari
Tidak perlu sedu sedan atau tangis ratapan
Karena kehilangan dunia
Tetapi jadikan dunia meratap sendu dalam tangisan
Karena kehilangan dirimu
Qum Fa andzir wa Rabbaka Fakabbir!
Tebarkan iman dengan cinta
Gubah dunia dengan prestasi
Jadikan hidupmu penuh arti
Kemudian boleh bersiap mati
Kalau kelak datang hari perjumpaan
Basahkan bibirmu mengucap puji Ilahi Rabbi
Laa ilaaha illallah...
Bangkit dan berilah peringatan
Buang dan campakkan kecemasan
Bunuh dan singkirkan kemalasan
Tumpas dan kuburkan kepalsuan
...
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”
(Q. S. Al-An’aam [6]: 162-163)
And the next is an upgrading programme (tarbiyah dzatiyah)...
-----------------------------------------------------------------------
Sebuah elegi tak berstruktur
Bandung,
27 Safar 1432 H

3.1.11

Hidupku, Petualanganku (Part 2)

“Hai, Bunga, perkenalkan saya Putra, mahasiswa Pendidikan Geografi 2009,” ujar seorang mahasiswa urakan sambil menyodorkan lengannya untuk bersalaman denganku.

Aku melongo tak percaya. Ini kan Putra! Aduh, mengapa tak tertebak strateginya olehku? Dasar Putra Dinata Clarke, kecerdasannya semakin terasah saja dan aku juga bingung darimana dia tahu bahwa Tere adalah teman bimbelku dulu?

“Ehm, Bunga… nggak usah terpesona sebegitunya, deh, hihi..” ujar Tere menggodaku.

“Eh, iya, maaf.. Saya Bunga, senang berkenalan dengan kakak,” rasanya ingin tertawa meledak-ledak dengan perkenalan konyol seperti ini.

Akhirnya aku dan Putra pun memulai menjalankan tugas kami bersama-sama lagi. Jika dulu kami menjalankan tugas bersama-sama tetapi sembunyi-sembunyi, sekarang kami secara terang-terangan memperlihatkan kepada publik bahkan kami sampai berpura-pura menjadi sepasang kekasih dan rasanya aku tidak ingin mengakhiri kepura-puraan ini. Aduh, sempat-sempatnya aku berpikir seperti itu. Kembali aku tegaskan kepada diriku sendiri, aku dan Putra adalah agen rahasia yang sedang menjalankan tugas dengan level kesulitan tinggi.

***

“Apa?! Bercerai?? Tapi kenapa, ayah, bunda?!” rasanya langit runtuh dan dunia menghimpitku saat kedua orangtuaku mengatakan bahwa mereka akan bercerai.

“Kami sudah merasa nggak cocok lagi satu sama lain, sayang…” jawab ayah.

“Kami juga sudah berusaha untuk mempertahankan pernikahan ini demi dirimu, tapi tidak bisa… Semakin dipertahankan semakin besar keributan yang muncul diantara kami. Kamu sudah dewasa, nak… Bunda harap kamu bisa mengerti, sayang…” ujar bunda sambil memeluk diriku.

Tak ada yang bisa kuperbuat lagi. Aku tahu persis ayah dan bunda bukan orang yang sembarangan untuk membuat keputusan. Aku terima walaupun dengan derai air mata dan luka menganga lebar dalam hatiku.

Hari-hari selanjutnya aku jalani dengan semangat yang berkurang hampir separuhnya. Walaupun dilimpahi kasih sayang yang penuh oleh nenekku, tetapi tetap saja ketidaksempurnaan kasih sayang dari kedua orangtuaku yang berpisah sangat menyakitkanku. Beberapa minggu kemudian, ayah menikah lagi dengan wanita lain dan membuat luka di hatiku semakin melebar seperti lubang hitam di angkasa yang menghisap keceriaanku.

Awalnya aku tak bisa menerimanya, aku hampir frustasi, merasa kehilangan segalanya. Aku tak mau bertemu dengan ayah dan istri barunya yang telah memiliki anak karena ia adalah seorang janda beranak dua. Dukungan dan kehadiran Putra yang menguatkanku, ia membantuku untuk bangkit kembali dari keterpurukan yang aku buat sendiri. Ia meyakinkanku bahwa semua ada hikmahnya dan akan ada kebahagiaan yang mendatangiku setelah ini, seperti pelangi yang muncul setelah rintik hujan yang deras menghujam bumi.

***

Waktunya pun tiba, hari ini aku kuliah tanpa mengenakan jilbab, seakan-akan telah terpengaruh secara negatif oleh Putra. Aku melepas jilbab dengan perasaan yang sungguh berat. Jujur, aku merasa lebih dekat dengan Tuhan saat aku memakainya. Aku melaksanakan ibadah-ibadah wajib sebagai muslim pun sejak aku memakai jilbab dengan bimbingan Putra.

Meskipun berpenampilan urakan dan melibatkan diri dengan komplotan narkoba yang berbahaya, Putra mempelajari Islam secara sembunyi-sembunyi. Ia belajar dari buku, internet, bahkan mendatangi beberapa ustadz dengan nyawa yang menjadi taruhan bila ketahuan oleh para pelaku peredaran narkoba itu. Aku melepas jilbab ini sambil menangis, tangis yang benar-benar luapan emosiku.

Teman-temanku menatapku dengan penuh rasa penasaran, bahkan ada pula yang memandangku jijik. Aku merasa ada banyak belati yang menusuk jantungku, bukan hanya karena respons teman-temanku tetapi juga karena kebodohanku yang tak bisa mempertahankan eksistensi jilbabku.

***

Aku memandangi papan tulis dengan kepala yang berat dan pusing. Jarum panjang arlojiku menunjuk angka 1, sedangkan aku belum makan apa-apa hari ini. Aku mual, sepertinya gara-gara kemarin masuk angin kehujanan sepulang dari rumah ayah. Kalau tidak bertengkar dengan ibu tiriku, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya. Aku memilih untuk buru-buru pulang karena emosi, padahal bila aku bersabar menunggu ayah pulang, aku akan diantar dan tidak akan masuk angin seperti ini.

Sepertinya aku ingin muntah, aku bergegas ke kamar mandi diantar Nisa, teman sekelasku, setelah meminta ijin pada dosen. Ini benar-benar masuk angin yang memuakkan! Aku sampai muntah berkali-kali di wastafel karenanya. Aku benar-benar tidak kuat lagi mengikuti kuliah, aku pun meminta ijin untuk pulang.

Di perjalanan aku merasa ada kejanggalan. Ah! Aku lupa membawa tasku! Gawat sekali, padahal disana ada obat insomnia yang kubeli dari apotik beberapa hari yang lalu. Sekarang ini aku memang terkena insomnia yang sangat melelahkan daya tahan tubuhku.

Tiba-tiba ada sebuah mobil yang meluncur dengan cepat ke arahku…

“Cepat masuk ke dalam mobil!” teriak seorang pria berbadan besar dan legam sambil menarikku.

“Apa maksudnya ini?! Siapa kalian?! Aku tidak mau!!!” aku berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan pria berbadan besar nan legam itu dan satu temannya yang lebih kurus.

Si kurus menutup mulut dan hidungku dengan saputangan hitam, mataku berkunang-kunang dan tak sadarkan diri.

***

“Ditemukan seorang mayat perempuan yang diduga merupakan mayat seorang mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia UPI Bandung yang bernama Jasmine Arlington atau yang biasa disebut Bunga di Sungai Saguling. Tetapi pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan karena mayat Bunga sulit diidentifikasi, namun terdapat kartu identitas dalam saku celananya…” sayup-sayup suara pembawa acara berita televisi itu membangunkanku. Dasar mafia kurang ajar, mereka sampai mengorbankan nyawa wanita tak bersalah agar meyakinkan publik bahwa aku sudah tiada.

“Kau marah, cantik? Haha. Lantas kenapa tak kau sebutkan saja dimana tempat agen rahasiamu itu dan dimana si Putra yang laknat itu!” lagi-lagi pria berkacamata hitam itu memaksaku.

“Aku tidak akan pernah memberitahukannya padamu meskipun nyawaku menjadi taruhannya!!!” aku menjawab dengan berapi-api meskipun sebenarnya nyaliku tak sekuat apa yang aku katakan.

“Oh, bagus sekali, Jasmine Arlington... hebat! Kalau begitu, buktikan kepadaku sekarang…” tidak seperti di film-film dimana korban penculikan diancam dengan pisau di lehernya, ia malah mengarahkan pisau lipatnya yang tajam ke arah mataku.

Aku terkesiap dan refleks menutup mataku. Beberapa detik kemudian aku membuka mata pelan-pelan dan pisau itu sudah berada di meja sebelahku.

“Aku akan mencongkel matamu yang indah itu kemudian memberikannya pada kekasihmu, Putra, yang keparat itu! Hahahaha,” ia berkata dengan tawa seperti para pemain judi besar di Las Vegas.

“Bersiaplah, nona cantik…” lagi-lagi ia menodongkan mata pisaunya ke arah mataku. Ya Tuhan, sekarang nyawaku di ujung tanduk… aku memohon perlindungan dari-Mu, hamba mohon tolong hamba… tak terasa air mata menetes membasahi pipiku.

Braaakkk!!!

Suara pintu gudang using ini didobrak dengan keras. Putra!!! Terima kasih karena Kau kirimkan ksatriaku, Tuhan…

Terjadilah pertarungan sengit antara Putra dengan pria berkacamata hitam yang belakangan kutahu namanya Zoro, kedengarannya aneh karena itu memang nama populernya, tak ada seorang pun yang mengetahui nama aslinya.

Aku bergegas ke depan, kulihat dua anak buah Zoro sudah pingsan, pasti sudah dilumpuhkan Putra dengan lihai. Selain menguasai berbagai ilmu bela diri, Putra juga belajar ilmu hipnotis.

Lalu aku kembali dan melihat Zoro dibelakang Putra yang kulitnya sudah banyak tergores luka karena pisau tadi. Ia terlihat akan menusuk Putra dari belakang sementara Putra berusaha untuk bangkit karena lututnya terkena goresan pisau. Aku tak bisa diam saja, aku harus melakukan sesuatu! Tetapi aku malah lupa akan ilmu bela diri yang aku pelajari di saat yang genting seperti ini! Aku berpikir keras dan ingat bahwa aku masih menyimpan bubuk cabai buatan nenek dalam saku jaketku yang aku bawa untuk bumbu penyedap kalau-kalau aku membeli jajanan irisan buah-buahan di depan kampus.

“Hei, kau, kalau berani coba lawan aku!” aku menggertak Zoro dengan keras. Zoro pun menghampiriku dan…

“Rasakan ini!!!” aku menyemburkan bubuk cabe itu ke matanya, dia kalang kabut sambil mencaci maki diriku. Akhirnya aku dan Putra bisa melumpuhkannya dengan sempurna. Beberapa menit kemudian, datang para polisi dan menangkap Zoro dengan anak-anak buahnya. Mengapa ya polisi selalu saja datang terlambat, seperti di film-film itu? Tetapi ya sudahlah, yang penting aku dan Putra selamat serta tak ada lagi peredaran narkoba yang merusak para calon guru itu. Menurut pihak kepolisian, hipotesa Putra memang benar bahwa ada suatu konspirasi dalam kasus ini. Untuk kesekian kalinya, kekagumanku bertambah pada pria bermata hijau ini.

***

Setelah kasus besar itu, aku dan Putra memutuskan untuk berhenti menjadi agen rahasia, bukan karena kami tidak mau membantu sesama, tetapi sudah waktunya ada regenerasi. Pemimpin kami, Pak Setya Parker yang keturunan Jawa-Belanda namun sangat cinta Indonesia ini melepas kami dengan berat hati.

“Kalian akan tetap berkomunikasi denganku, kan? Kalian ini sudah seperti anakku sendiri…” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Ah.. aku sungguh tak tega melihatnya, baru kali ini aku melihat beliau yang gagah hampir menangis.

“Tentu saja, pak, kita juga sudah menganggap bapak sebagai ayah kami sendiri,” ujar Putra.

Aku mengiyakan.

Hari-hari berikutnya aku dan Putra masih berkomunikasi tetapi tidak intens seperti dulu, bahkan sudah sangat langka bertemu meskipun fakultas kami sangat berdekatan karena kesibukan kami masing-masing. Kemudian aku kembali memakai jilbab dan mempelajari agama yang kuanut ini dengan sungguh-sungguh dengan mengikuti kajian keislaman, dsb.

Lima tahun kemudian, Putra melamarku setelah menyelesaikan studi S2nya di Cambridge University. Aku sendiri sudah mengajar di sebuah sekolah yang sedikit terpencil, meskipun dengan gaji yang tidak bisa dikatakan besar, namun aku bahagia karena dapat bermanfaat bagi orang lain dan walaupun cita-citaku menjadi dosen di Ohio University harus tertunda.

Kemudian kami dianugerahi dua buah hati yang menggemaskan, Orchidia Puspita Clarke dan Andhika Raiza Clarke.

***

Suatu Minggu yang mendung, acara jalan-jalan pun kami batalkan. Kami memutuskan untuk menonton koleksi DVD Spy Kids yang kami miliki di rumah.

“Bunda, Ochi mau jadi agen rahasia kayak Carmen Cortez ya! Keren banget!”

“Dhika juga, ayah, pengen kayak Juni Cortez ya! Pasti asyik deh jadi agen rahasia!”

Aku dan Putra saling berpandangan kemudian ia mengedipkan mata dan menyunggingkan senyum termanisnya padaku.

***

Tamat, hehe :D

© KATATINA
Maira Gall