2.1.11

Hidupku, Petualanganku (Part 1)

Ini cerpen tugas matkul bahasa Indonesia.. ditunggu kritik dan sarannya yaa, hehe :D

-------------------------------------------------------------------------------------

“Cepat katakan, dimana tempat persembunyian komplotanmu sekarang!” ujar pria berkacamata hitam itu kepadaku.

Aku tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaannya. Enak saja dia bilang komplotan, aku tak mau disamakan dengan dia dan antek-anteknya.

“Kau benar-benar membuatku emosi!!!” kali ini dia membentak sambil mendorongku ke tembok dengan kasar sehingga kepalaku terbentur.

Gelap.

***

Namaku Jasmine Arlington, nama yang asing bagi orang Indonesia. Orangtuaku ingin agar aku bermanfaat bagi sesama seperti bunga melati yang memberikan keharuman bagi setiap makhluk berada di dekatnya, sedangkan nama belakangku diambil dari tempat aku dilahirkan, karena pada saat itu ayah masih menyelesaikan studinya dan kami tinggal di Arlington, Virginia, Amerika Serikat.

Setelah lulus elementary school atau Sekolah Dasar, kami pindah dan menetap kembali di Indonesia karena ayah telah selesai menempuh studi dan menjadi staff ahli termuda di Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Ibuku sendiri merupakan seorang Sarjana Humaniora, lulusan jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Indonesia, maka tak ada pantangan yang berarti saat keluarga kami harus tinggal di luar negeri untuk beberapa tahun lamanya.

Aku pun didaftarkan ke Jakarta International School, agar aku tetap menggunakan bahasa Inggris meskipun tidak sepenuhnya kata ayahku. Disanalah panggilan Bunga mulai melekat pada diriku. Mau tahu mengapa? Karena kata mereka, aku mirip dengan artis Bunga Citra Lestari dan kebetulan nama asliku juga merupakan nama salah satu jenis bunga. Aduh, ada-ada saja mereka ini, padahal aku tak merasa mirip dengan artis mana pun, tetapi aku terima saja karena itu memang panggilan khusus dari mereka untukku.

Sejak SD di Arlington, aku sudah terbiasa untuk aktif di kelas dan berpikir kritis sehingga kebiasaan ini tak hilang saat aku berada di SMP yang notabene bukan berada di Amerika Serikat, negara yang sangat menuntut kita untuk selalu kritis dan aktif dalam setiap kegiatan. Berkali-kali aku mengikuti lomba dan menjadi juara mewakili sekolahku, sebagian besar lomba debat bahasa Inggris, tentu saja karena bahasa tersebut bukan bahasa asing lagi bagiku.

Setelah lulus, aku meneruskan sekolah ke Pribadi Bilingual Boarding School, Bandung. Kurva prestasiku semakin meningkat karena disana aku aktif dalam beberapa organisasi dan ekstrakurikuler namun tetap memprioritaskan akademik. Para guru beberapa kali menawarkan berbagai program pertukaran pelajar untuk kuikuti seperti AFS, tetapi aku selalu menolaknya karena aku ingin memberikan kesempatan pada teman-temanku yang belum pernah pergi ke luar negeri dan belajar disana. Aku juga pernah mendapat tawaran beasiswa untuk berkuliah di National University of Singapore, tetapi lagi-lagi aku tolak karena aku telah memiliki rencana untuk menuntut ilmu di Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia sebab kelak aku ingin menjadi dosen Bahasa Indonesia di Ohio University, Amerika Serikat.

Interaksi dengan lingkungan yang penuh dinamika menjadikanku pribadi yang open-minded atau berpikiran terbuka dan luas. Entah mengapa hal itu berdampak pada intuisiku sehingga ketajamannya diatas rata-rata serta kebiasaanku yang senang menyelidiki sesuatu (kebiasaan ini didapat karena aku adalah salah satu dari sekian banyak penggemar Sherlock Holmes). Di sekolah, baik SMP maupun SMA, aku beberapa kali memecahkan kasus pencurian yang membuat pihak sekolah kalang kabut. Kasus pencurian di SMA yang paling menghebohkan membuatku berkenalan dengan salah seorang siswa yang mengagumkan.

***

“Maaf, saya boleh ikut duduk disini?” tanya seorang siswa yang sepertinya lebih tua dariku.

“Oh, iya boleh, silakan duduk”, aku menjawab sambil mengelap sisa sereal di sudut bibirku.

“Kamu Jasmine yang suka dipanggil Bunga, kan?”

“Iya.. eh, kok tahu?”

“Siapa sih yang nggak tahu kamu? Detektif cerdas dari kelas 11 Bahasa 1 yang terkenal itu,” ia berbicara dengan senyuman yang menawan. Aduh, bisa-bisa dia membuatku luluh dengan senyumnya itu.

“Oohh… iya, gitu? Ah, berlebihan banget, sih. Hehe. Hmm, ngomong-ngomong kita belum kenalan..” ups, kok jadi aku yang mengajaknya berkenalan? Wah, sepertinya aku sedang salah tingkah sekarang.

“Oh iya, saya hampir lupa. Perkenalkan, saya Putra dari kelas 12 IPA 2,” kali ini senyumnya memamerkan sedikit barisan giginya yang putih dan rata, ia juga rupawan dan badannya atletis, pasti banyak yang siswi disini yang menyukainya.

“Hei… halo? Kamu nggak apa-apa, kan?” dia bertanya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depanku.

“Eh, i-iya, nggak apa-apa kok, kak Putra..” aduh, pasti sekarang mukaku sudah seperti kepiting rebus gara-gara rasa terpesona dan malu dicampur menjadi satu.

“Oke, Bunga, saya ke kelas duluan, ya. Eh, satu lagi, boleh saya minta nomormu?”

“Boleh, kak.”

Sejak itulah aku mengenalnya, Putra Dinata Clarke, ayahnya pria Inggris asli sedangkan ibunya wanita Jawa tulen, pantas saja dia memiliki ketampanan yang membuatnya banyak digandrungi para perempuan. Dia pula yang membawaku bergabung di sebuah agen rahasia untuk menyelidiki berbagai masalah sosial yang skalanya diatas kasus-kasus pencurian di sekolah yang telah kupecahkan. Kami menyelediki dan memecahkan berbagai kasus bersama-sama, kami pun berjanji untuk kuliah di kampus yang sama walau berbeda jurusan dan angkatan. Berbagai tantangan dan rintangan pun muncul satu persatu…

***

Targetku menjadi mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia UPI akhirnya tercapai dan aku tinggal bersama nenek di Setiabudi Regency karena orangtuaku tetap tinggal di Jakarta, sedangkan Putra sudah dari tahun kemarin menjadi mahasiswa jurusan Pendidikan Geografi UPI. Dia memang sangat mencintai alam, tadinya dia ingin masuk UI, tapi karena aku ingin ke UPI, ia mengganti haluannya. Ahh… bagaimana mungkin aku bisa melepas pria sebaik dia? Kami memang tak pernah membahas hal-hal yang berkaitan dengan perasaan seperti yang aku rasakan, tetapi entahlah… rasanya ada suatu ikatan diantara kami (tentu saja di luar tugas sebagai agen rahasia) yang tidak dapat diungkapkan secara verbal dan eksplisit.

Namun ada yang membuatku jengkel padanya sekarang, ia menyamar sebagai seorang mahasiswa urakan yang jelas-jelas sangat jauh berbeda dengan kepribadiannya. Tugas kami sekarang adalah menyelidiki kasus peredaran narkoba yang disinyalir sudah masuk ke lingkungan para calon pendidik ini. Sedih sekali rasanya dan tentu saja miris, betul-betul mafia narkoba tak tahu diri, mereka tak segan untuk meracuni mahasiswa yang akan menjadi para pahlawan tanpa tanda jasa di negeri ini.

“Bunga, kamu juga nyamar ya, mumpung belum mulai kuliah, kamu mulai sekarang pakai jibab aja,” pinta Putra dengan mimik serius namun dengan penampilan yang tidak mencerminkan kesungguhannya sebagai mahasiswa dan ini membuatku sedikit mual.

“Apa? Pakai jilbab? Aku kan nggak biasa… emang nggak ada alternatif penyamaran yang lain?” aku bergidik, jelas-jelas aku sangat tidak biasa memakai jilbab meskipun dari lahir aku menganut agama Islam.

“Aku mohon, Bunga… ini demi kelancaran misi kita mengusut tuntas kasus peredaran narkoba itu. Nanti di kampus, kita pura-pura tidak saling mengenal dan akhirnya kita berkenalan dengan cara yang akan dipikirkan selanjutnya. Hal ini agar tidak mencurigakan mafia narkoba serta antek-anteknya itu…” ujarnya memohon kepadaku.

“Lantas apa hubungannya dengan keharusanku memakai jilbab?” aku masih belum mengerti sepenuhnya.

“Begini, mereka itu akan sangat senang bila ada yang berhasil menjadikan gadis berjilbab sebagai pemakai narkoba dan nantinya tentu saja melepas jilbabnya. Aku juga belum menemukan alasan mengapa mereka menginginkan hal itu karena mereka tak pernah menjelaskannya, hanya saja kuat dugaanku bahwa mereka adalah bagian dari konspirasi.”

“Konspirasi bagaimana maksudmu?”

“Ya, konspirasi bangsa asing serta para oknum di negeri ini. Mereka tak ingin bangsa kita mengalami kemajuan yang pesat karena memiliki pemuda-pemudi yang hebat, karena mereka takut akan kehilangan segalanya karena SDM kita di masa depan berkualitas unggul. Kamu pasti tahu kan, negara kita memiliki SDA yang berlimpah dan itulah yang tak ingin dilepaskan oleh para konspirator jahat itu,” seperti biasa, Putra memberi penjelasan yang masuk akal dan membuatku mengerti semuanya. Kali ini memang misi yang besar dan termasuk berat dijalankan..

“Hmm.. Baiklah, aku akan mengenakan jilbab di kampus,” kataku dengan penuh keyakinan.

***

Masa-masa menjadi mahasiswi baru pun aku jalani dan nikmati. Asyik sekali rasanya, temanku bertambah banyak dan bertambah pula pengalamanku. Para dosennya pun sangat pandai dalam mengajar dan tidak membuatku bosan. Aku bertekad untuk menjadi dosen yang mengasyikkan seperti mereka saat aku menjadi dosen di Amerika Serikat kelak.

Kemudian pada suatu hari, teman bimbelku yang sama-sama berkuliah di UPI Bandung mengajakku bertemu, katanya ada seseorang yang mau berkenalan denganku. Aku bingung, siapa gerangan orang tersebut? Aku kan berbeda jurusan dengan Tere, teman bimbelku itu, memangnya ada ya mahasiswa baru yang mengenalku di luar FPBS?

“Siapa sih orangnya, re?” tanyaku dengan penuh rasa penasaran.

“Nanti juga kamu tahu, dia kakak tingkat aku. Katanya sih dia melihat kamu sejak MOKA dan dia langsung tertarik sama kamu,” Tere mengatakannya dengan ekspresi yang meyakinkan.

“Masa iya, sih? Aneh banget, deh…” hanya itu yang bisa kukatakan, habis aku memang merasa aneh dan intuisiku mulai bekerja lagi, aku merasa seperti ada skenario di balik ini.

“Yaa.. kita lihat aja nanti,” ia mengedipkan matanya nakal. Ugh, aku tidak suka kalau harus terus penasaran seperti ini.

***

to be continued...

14.11.10

Ayo Berbagi! \^o^/


Usai pengkaderan kedua HIPMI PT UPI angkatan 4, seperti biasa saya naik angkot Caheum-Ledeng. Dalam angkot tersebut ada seorang bapak yang membawa keranjang dagangan (yang suka dipanggul di pundak, ada tali tambangnya) dan seorang ibu yang juga membawa barang-barang.

Singkat cerita, dari obrolan bapak dan ibu tersebut, saya mengetahui bahwa sang bapak adalah pedagang … (saya lupa barangnya apa, sayuran ga tau buah-buahan >.<), beliau menjual dengan harga Rp 8000/kg, sedangkan keuntungan yang didapat hanya Rp 1000/kg, karena dari sananya Rp 7000/kg. Biasanya beliau membawa 30kg, itu berarti pendapatan kotor beliau adalah Rp 30.000 per hari!!! Wah.. Hari gini Rp 30.000 kan bukan jumlah yang besar. Padahal ada istri dan 4 anak yang harus beliau nafkahi.

Sedangkan ibu-ibunya mengaku sebagai tukang kredit, beliau ditinggalkan sama jemputan yang seharusnya mengantarnya sampai rumah dan ternyata beliau ga punya uang sepeser pun, ongkosnya minta tolong dibayarkan sama bapak pedagang tadi.

Bapak tersebut akhirnya membayarkan ongkos ibu tadi. Setelah ibu itu turun, bapak tersebut ngobrol dengan supirnya, kata beliau, kita harus membantu orang yang membutuhkan, karena bisa saja suatu hari keluarga kita yang ada di posisi ibu tersebut…

Subhanallah…

Bapak tersebut dengan tulus ingin berbagi walaupun beliau sendiri memiliki pendapatan yang sangat minim, yang tiap rupiahnya tentu sangat berharga untuk kehidupan keluarganya. Ahh.. Jadi malu sendiri, kadang diri ini masih enggan untuk memberi, untuk berbagi..

Dan ALLAH selalu mempunyai cara yang unik dalam memberi hikmah untuk mengingatkan hamba-Nya, meskipun itu lewat perjalanan pulang menggunakan angkot, subhanallah.. *_*

Nah, sahabat, kita biasakan yuk buat peka terhadap keadaan sekitar kita, saling berbagi dan memberi, apalagi sekarang nuansa idul qurban yang sangat kentara dengan jiwa dan aksi yang peduli terhadap sesama, okay? Semangat Berbagi! :D

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, “Sodaqoh yang bagaimana yang paling besar pahalanya?” Nabi Saw menjawab, “Saat kamu bersodaqoh hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga rohmu di tenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (HR. Bukhari)

Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad)

7.11.10

Rahasia Dua Hati ; Cinta antar Insan yang Kontradiktif


Penulis : Muthmainnah

Penerbit : Syaamil

Ini novel dapet nemu dari perpustakaan tutorial kampus tercinta, hehe. Sebenernya novel yang udah jadul (terbitan taun 2005), tapi karena penasaran dan direkomendasikan sama salah satu sahabat buat baca ini, jadi minjem deh. Then, ternyata emang mantabs ini novel! ^o^P

Novel karya Mbak Muthmainnah ini emang tentang cinta, tapi bukan cinta biasa lho (hehe, ngikutin lagunya afghan :D). Rahasia Dua Hati ini menceritakan cinta antara dua insan yang sangat berbeda alias kontradiktif, dari segala segi.

Ikatan hati antara Tita Putri, seorang gadis Minang yang cuek, maskulin, emosional, kaku, dengan Harry Woodman, seorang pemuda Inggris yang romantis dan bawaannya tenang. Alur kisah mereka sangat unik, mereka bertemu karena acara pertukaran pelajar, sampai ada masa dimana mereka harus bersama-sama memperjuangkan ikatan mereka di London sana.

Novel ini sarat akan muatan-muatan moral dan toleransi yang tinggi tetapi tetap dalam koridor Islam. Bahasanya pun cukup ringan, sehingga ngga akan bikin pembacanya keblinger :D dan inshAllah membuat para remaja mengerti apa itu cinta yang sebenarnya.

Selain itu, pembaca juga akan menjelajahi Padang, Bandung, dan London yang secara detail dideskripsikan dalam Rahasia Dua Hati ini secara indah dan menyentuh.

Karakter-karakter dalam novel ini pun sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, tidak seperti novel cinta Islami lainnya yang biasanya karakternya itu selalu hampir sempurna menurut ukuran manusia.

Pokoknya kalau udah baca ini, para perempuan bakal bilang, “Wuahh.. I wanna have a husband like Harry Woodman!” hehe (saya ini mah XD)

Highly recommended book! :D

15.9.10

Kisah Manusia dan Bumi yang Renta


Sebuah puisi (satu-satunya) yang saya bikin dengan sungguh-sungguh sampai keblinger ><
Ini juga dibantu sama Kang Azmi, Teh Karin, dan Kang Zaim.. Hehe.. Thanks a lot, all! :D

------------------------------------------------------------------

Kisah Manusia dan Bumi yang Renta

Sudah terlalu lama dunia ini menopangmu
Memberikan yang ia miliki untuk kehidupan fana ini
Namun apa yang kau berikan kepadanya?
Tak ada, tak pernah kau pedulikan dia

Tahukah kau, ia seringkali menangis
Berharap ada sedikit saja kepedulian untuk melestarikan dirinya
Karena ia sadar tak selamanya dapat memberi
Meskipun telah menjadi tugas mulia yang diberikanNya

Waktu terus berputar dan ia pun semakin renta
Sementara para generasi muda lebih senang berfoya-foya
Tangis dunia semakin menjadi-jadi
Ia sangat membutuhkan uluran tanganmu

Bersyukurlah karena Ia telah menciptakannya
Bangun rasa peduli dan kasih sayangmu terhadap dirinya
Bangkit dan bertindaklah untuk menyelamatkannya
Jangan biarkan kau menyesal karena terlambat untuk berbuat

Hingga di hari yang dijanjikanNya
Ketika manusia hanya berdiri ditemani penyesalannya
Dengan keringat menggeluyuri hingga dada
Masih menganggap perkara ini remeh atau tak nyata…?

Bukalah mata dan hati yang buta
Bukan bumi itu yang butuhkan kita…
karena baginya cukuplah Allah sebagai pelindungnya
tapi sungguh akan ada balasan bagi pendustaan kita atasnya..
yang sadar dan tidaknya mendapat khalifah sebagai amanah…
sementara bumi menjadi saksi atas amanahnya kita…

***Dan demikianlah… kisah manusia dan bumi yang renta…

Semoga bermanfaat :D

7.9.10

Kisah Cinta Sejati



Copy paste dari milis daarut tauhid...
------------------------------------------------------------------------------------------
Kisah Cinta Sejati
By: agussyafii

Siang tadi saya mendapatkan email dari seorang teman yang menuturkan sebuah kisah cinta sejati. Sebuah cerita dari Rumaisha Khairatun Hisan Dalam penuturannya dikisahkan sebagai berikut.

'Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9.30 seorang pria berusia 70-an datang utk membuka jahitan pada luka di ibu jarinya. Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi. Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang aku sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru.

Pekerjaan yg tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter aku memutuskan untuk melakukannya sendiri. Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru.
Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari.

Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer. Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Aku sangat terkejut dan berkata,' Dan bapak masih kesana setiap hari walaupun istri bapak sudah tidak kenal lagi?'

Dia tersenyum ketika tangannya menepuk tangan ku sambil berkata, 'Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia kan?'

Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tangan ku masih tetap merinding, 'Cinta kasih seperti itulah yang aku mau dalam hidupku.' Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi. Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki.'

'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kami pasangan hidup dan keturunan yang menyenangkan hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertaqwa.'
(Q.S: Al-Furqaan : 74)

5.8.10

Menjadi Mahasiswa Muslim Sejati


Penulis adalah Kepala Sektor Akademik dan Keprofesian LDK GAMAIS Institut Teknologi Bandung, Penerima Beasiswa Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis Nurul Fikri (PPSDMS-NF) Regional 2 Bandung.

Tulisan ini dimuat di koran Republika bagian Opini pada tanggal 14 Desember 2009


Menjadi mahasiswa muslim sejati bukan hanya sekedar menjadi mahasiswa berprestasi, apalagi mahasiswa biasa. Seorang mahasiswa muslim sejati dituntut untuk meraih Indeks Prestasi tertinggi di kelasnya. Mahasiswa muslim sejati juga harus menjadi seorang aktifis dakwah, baik itu di kampus maupun di masyarakat. Mahasiswa muslim sejati juga harus berani maju ke depan untuk memimpin berbagai organisasi kampus dan kemasyarakatan, baik itu pemimpin LDK, pemimpin BEM, pemimpin unit-unit kemahasiswaan, maupun pemimpin himpunan jurusan. Di samping itu ia juga harus menujukkan bahwa seorang mahasiswa muslim sejati mampu menjuarai berbagai kompetisi lomba, baik skala regional maupun internasional. Dan yang tidak kalah pentingnya, seorang mahasiswa muslim sejati harus mau berbagi dengan menuangkan pemikiran-pemikirannya yang tajam dan cemerlang lewat tulisan-tulisannya di berbagai media massa. Dan terakhir adalah seorang mahasiswa muslim sejati harus sudah menyiapkan dirinya untuk memenangkan tantangan kehidupan pasca kampusnya.

Untuk meraih itu semua, tentunya diperlukan perjuangan yang sangat berat, tetapi seorang mahasiswa muslim sejati akan memilih jalan mendaki ini. Ketika kita sudah memilih jalan mahasiswa muslim sejati tentunya akan banyak konsekuensinya. Lalu pertanyaannya bagaimanakah meraih ini semua? Apa saja yang telah dilakukan oleh mahasiswa yang telah memilih jalan ini?

Kunci yang utama adalah kedekatan kita kepada Allah. Kalau kedekatan ini telah kita raih, insyaallah semuanya akan mudah kita raih dan ringan saja kita menjalani jalan ini. Lalu bagaimana cara kita mendekatkan kita kepada Allah. Tentunya kita harus mempersembahkan yang terbaik dari kita untuk Allah, bahwa kita harus berusaha menjadi hamba-hamba yang terbaik di hadapan Allah. Ketika kesadaran ini sudah tertanam kuat, niscaya dengan sendirinya kita akan mempersembahkan semua ibadah kita dengan yang terbaik. Kita akan sholat dengan penuh kekhusyukan, kita akan menyempurnakan sholat kita dengan berjamaah tepat waktu di masjid, lalu kita juga akan menyempurnakannya dengan sholat sunnah yang menyertainya. Hal yang sama juga bisa kita terapkan dalam kuliah. Kehidupan kuliah kita awali dengan niat ibadah kepada Allah, insyaallah dengan sendirinya kita akan berusaha mempersembahkan yang terbaik dalam kuliah kita. Kita akan belajar dengan keras setiap hari. Kita akan mengerjakan semua tugas dengan sebaik-baiknya. Kita juga akan melaksanakan praktikum dengan sebaik-baiknya. Maka secara otomatis kita akan meraih nilai tertinggi. Hal yang sama juga bisa kita terapkan dalam segala aspek ibadah kita yang lain. Dengan penuh kesadaran akan memberikan yang terbaik dalam ibadah kita maka sholat kita, puasa kita, zakat kita, infaq kita, memberikan bantuan kepada teman kita, dan ibadah – ibadah yang lain akan menghantarkan kita dekat kepada Allah.

Kunci berikutnya yang tidak kalah pentingnya ketika kita telah memutuskan untuk mengambil jalan mahasiswa muslim sejati adalah keridhoan orang tua kita, terutama keridhoan ibu kita. Selalu minta doa kepada ibu kita agar segala ikhtiar yang kita lakukan akan berhasil. Ketika seorang ibu sudah mendoakan kita, doa-doa tersebut akan menembus batas-batas langit. Doa itu akan langsung menuju langit dengan kekuatan yang luar biasa, dan Allah segera mengabulkan doa ibu kita tersebut. Dengan ridho orang tua ini, insyaallah apa yang kita cita-citakan akan berhasil. Menjadi mahasiswa muslim sejati.

Lalu bagaimanakah kehidupan sehari-hari seorang mahasiswa muslim sejati? Mahasiwa muslim sejati tidak akan melewatkan semalam pun tanpa bercengkerama dengan Allah lewat sholat malamnya. Ketika adzan subuh berkumandang, ia akan segera bergegas menuju masjid menembus keheningan pagi hari untuk segera berada di shaf terdepan sholat subuh. Ketika sudah masuk waktu dhuha, lagi-lagi seorang mahasiswa muslim sejati ini akan senantiasa bermujajat khusyuk kepada Allah lewat sholat dhuhanya. Seorang mahasiswa muslim sejati ini tidak akan melewatkan seharipun tanpa tilawah minimal 1 juz Al-Quran. Mahasiswa muslim sejati juga memastikan paling tidak dalam sepekan bertaqorrub lewat puasa sunnahnya, disamping juga mengikis kecintannya yang berlebihan kepada harta dengan tiada melewatkan seharipun tanpa infaq. Yang tidak kalah pentingnya, seorang pemimpin muda bangsa juga rajin berolahraga untuk menciptakan fisik yang kuat. Kesemuanya itu dilakukannya semata-mata untuk Allah.

Semuanya itu akan menjadikan kita seorang mahasiwa muslim yang memiliki pemahaman islam secara komprehensif, moderat, kepribadian yang matang, intergritas tinggi, serta peduli terhadapan kehidupan bangsa dan negara.

24.6.10

Mimpi Kita dan Skenario-Nya..


Sahabat, ingatkah saat kita berani untuk melukiskan mimpi-mimpi kita saat duduk di high school kemarin?

Mimpi itu seakan sangat nyata dan amat dekat dengan kita. Di-support dengan guru –guru serta kawan-kawan yang super, kita semakin percaya diri untuk menatap masa depan dengan senyuman.. Akan tetapi, dalam perjalanan menuju impian itu, akan ada kerikil-kerikil yang menguji kita, apakah kita bisa melewatinya ataukah malah jadi berputus asa?

Flash back ke beberapa waktu yang lalu, saya merasakannya, sahabat. Saya diberi kerikil, hujan, sebelum saya diberi pelangi... Alhamdulillah.. ALLAH memberi saya orangtua, guru-guru, serta sahabat-sahabat yang hebat, menguatkan saya, dan membuat saya kembali optimis untuk meraih impian-impian saya. ^o^

Sangat disayangkan bila kita dengan mudah menyerah begitu saja dengan ujian-ujian yang akan diberikan ALLAH untuk kita. Karena sejatinya semua itu akan menjadikan pribadi kita lebih matang dan sanggup memandang hidup dengan dimensi yang positif dan lebih berwarna :D

7 hari lagi sahabat.. Salah satu ujian yang menjadi salah satu ikhtiar kita dalam mencapai impian akan segera berlangsung. Saya yakin, sahabat sudah berikhtiar dengan maksimal selama ini. Jika diibaratkan maraton, saat ini masih saatnya untuk kita berlari secepat mungkin a.k.a sprint.

Mungkin sesekali kita merasa sangat kelelahan. Namun, garis finish itu sudah di depan mata, sahabat!!! Apakah dengan mudahnya kita menyerah dan memasrahkan semuanya disini?? Sedikit lagi, sahabat.. H-3 atau H-2 nanti, bolehlah kita pelan-pelan menenangkan diri, memperbanyak intensitas berdo’a, dan mulai menyiapkan peralatan yang dibutuhkan secara teknis.

Saya pernah dengar bahwa sebenarnya faktor ’lucky’ itu tidak mutlak hanya keberuntungan semata. Maksudnya? Ya, semua itu bergantung pada ikhtiar kita dan tawakkal kita, dan hanya ALLAH lah yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk kita.. Terkadang kita menyalahkan mengapa takdir kita tidak sesuai dengan keinginan kita, dsb.

Kita lupa bahwa kita adalah artis dari skenario yang telah ALLAH tetapkan, maka yang seharusnya kita lakukan adalah berikhtiar dengan sebaik-baiknya dengan mengoptimalkan potensi yang ada dan menyempurnakannya dengan tawakkal kita yang penuh keikhlasan..

Ingatlah sahabat, ALLAH adalah Sutradara yang Maha Hebat.. skenario-Nya telah dirancang sedemikian rupa.. Mari sejenak kita bertafakur, sahabat pastinya tau dong kalo air laut itu asin karena kadar garamnya yang tinggi? Dan ALLAH yang telah mengaturnya.. Kadar garam di laut itulah yang membuat laut tidak berbau busuk. Lho.. Kok bisa sih, na, berbau busuk??

Iya dong, secara, makhluk hidup yang tinggal di dalem laut itu jumlahnya banyaaaaaakkkkk banget, mereka hidup dan mati di laut. Bisa kebayang kalo laut tanpa garam sedangkan di dalamnya ada banyak bangkai makhluk laut??

Hmm.. Itu baru sebagian kecil aja lho, masih banyak skenario ALLAH yang belum tersingkapkan untuk diambil ibrah(pelajaran)nya oleh kita sebagai manusia yang juga khalifah untuk menjaga dan memakmurkan bumi ini..

Ayo, bersiaplah menghadapi ujian berupa kerikil, hujan, pelangi dan lakukan sebaik-baiknya peran ’keartisan’ kita menjalankan skenario indah-Nya! Never give up, do the best, and always husnudzan! ;)


P.S. Sedikit tips untuk mencapai impian kita dan agar kita senantiasa dicintai oleh-Nya (dari buku ”Ngapain Nunggu Tua Kalau Mau Kaya”) :
1. Mencintai kekasih-Nya, Nabi Muhammad Saw.
2. Beribadah sesuai syariat dan berbuat kebaikan
3. Bersedekah dan ikhlas
4. Sabar dan tawakal
5. Adil
6. Selalu menyucikan diri dengan bertaubat
7. Mendahulukan kepentingan-Nya


”Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku,
Aku mengingat-Nya jika ia mengingat-Ku,
Jika ia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta,
Jika ia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa,
Jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari-lari kecil.”
(Hadist Qudsi)
© KATATINA
Maira Gall