3.6.11

Ambassadors of Islam



I am a hijabi Muslim woman, and I refuse to reduce my hijab to a scarf much like those before me. Hijab goes beyond my modest dress code and my head cover. Hijab is my lifestyle. Over the years, it has built my character and shaped my behavior. Hijab has brought me closer to my creator. My hijab is very much feminine. It is a tool given to every woman that no man is able to acquire through wit or strength. As a hijabi, I am a walking representation of Islam. This form of dawah does not require brochures or speeches. The statement I make as I walk streets from Texas to the Middle East is stronger than your most colorful brochure. I am everyday an ambassador of Islam, accepting the responsibility as much as I am the honor. The responsibility my hijab has given me is a fierce passion continuously driving me to seek knowledge about my faith and share it with others. It is the reason I am able to speak to you in your language, a language that is not my native tongue.
And no, I don’t dress this way, act this way, and talk this way because I’m forced to. I am who I am today of my own free will and as a result of the decisions I’ve made throughout my life with the guidance of my Lord. I cover the beauty He has blessed me with, as He has blessed every woman, so that you may see beyond the physical. Hijab has taught me to respect myself, for that is where everyone else’s respect is derived. I speak softly and lower my gaze, not from shame or weakness. Rather, it is from humility and understanding of the power my eyes and voice possess. I don’t need to raise my voice in order to be heard. The words that softly leave my lips and the ones escaping my pen as I write this have much more weight than the volume of my vocal cords. My thoughts and opinions are proven to be much more piercing than the eye contact you deem necessary to sustain a conversation. I am well aware of my defiance to your norm, but I do not need to conform to society’s norms, whether it is that of the West or the East. I am not interested in your culture. Through hijab, Islam has become my culture, my way of life. It constitutes my values and beliefs, and I’m not one to downgrade.
I am certain that there are hijabi women everywhere who feel this. They are my sisters in Islam, my fellow ambassadors of this faith. You will not run into us at your clubs. You will not meet us at your bars. We do not pose for your indecent photos. We are not the subjects of your gossip magazines, nor are we your Hollywood icons. We don’t sing and dance for your pleasure. And no, you cannot have our phone numbers. We cover our bodies because we are the truest form of beauty. We lower our gazes because we understand the effect our eyes will have on you. We speak firm words softly because we know the content is enough emphasis. We are strong Muslim women, and we are pleasing to our Lord. And that alone is the reason we are.

MashaAllah :D


17.5.11

Biasakan Berbuat Baik Sekecil Apapun Itu! :D

Sepulang ngampus, seperti biasa saya ngobrol sama ibunda tercinta, ngobrolin tentang tadi ngapain aja di kampus, terus di rumah ada kejadian apa aja, dan sebagainya, wehehe. Then, mommy cerita tentang Briptu Norman yang katanya dikasih rumah sama Gubernur Gorontalo, dan beberapa waktu lalu juga dikasih mobil, motor, sama rumah tapi bukan dari Gubernur #duilee.. update banget emak gue yak xD

Selintas saya memutar ingatan saya saat beliau baru-baru terkenal ; famous gara-gara nyanyi lypsinc lagu india terus direkam dan video rekamannya di-upload ke Youtube, right?
Nah, beliau kan nyanyi-nyanyi gitu waktu itu dalam rangka ngehibur rekan sejawatnya yang lagi bete ya, guys? Hehe.
That's the point!

Sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, yakinlah bakal ada balasannya, I mean ga ada yang sia-sia :D
Bisa aja ketulusan kita dalam berbuat baik langsung dibalas secara masif, seperti Briptu Norman itu, bisa juga dibalas tanpa kita sadari mungkin berupa kesehatan maupun kebahagiaan yang kita rasakan :D atau.. bisa juga jadi tabungan buat di akhirat nanti, who knows? Husnudzan aja ;)

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula“.
 (QS. Az-Zalzalah: 7-8)

Itu janji Allah SWT lho, guys! Masa' sih kita masih ragu juga buat membiasakan diri berbuat baik? Yuk, kita biasakan berbuat baik sekecil apapun kebaikan itu! And don't forget, kejahatan sekecil apapun juga ada balasannya, guys. Beware!

Keep Moving Forward! \^o^/


9.5.11

Cerpen 100 Kata Pertamaku

Ini cerpen 100 kata pertamaku, tapi belum dikasih judul #kebingungan nyari judulnya, ahaha
Ditunggu saran dan kritiknya yaa :D, Enjoy! :D

------------------------------------------------------------------------------------

thisiscasey          : ra, besok aku pulang
tyaraishere         : kenapa mendadak?
thisiscasey          : mempersiapkan pernikahan, 2 bulan lagi
tyaraishere         : pernikahanmu?
thisiscasey          : ya
tyaraishere         : kamu baru memberitahuku sekarang, tega sekali!  Siapa calonnya?
thisiscasey          : kamu sudah mengenalnya
tyaraishere         : benarkah?  siapa???

...                                                            

Keheningan menyeruak.

Sepuluh tahun bersahabat dengan Casey, belum pernah dia menceritakan hal seperti ini. Siapa wanita itu?

Tunggu. Kenapa hatiku terasa begitu dingin seperti winter di Alaska secara tiba-tiba?

...

Ibu mengetuk pintu dan memasuki kamarku.

“Sayang, besok keluarga Casey akan datang untuk melamarmu..”

Laptopku berbunyi.

thisiscasey          : :)

Menghangat seketika, ada yang menetes dari mataku, berkilau.

5.5.11

What I get from Middleton Family..

Sobat semua pastinya pada tau kan kalo tanggal 29 April lalu, Prince William menikah sama Kate Middleton? Hehe.. Ya iyalah ya, secara, setiap channel di televisi pada rame menayangkan ‘Royal Wedding’ itu, bahkan dari jauh-jauh hari sebelum hari-H, belum lagi berita-berita di internet. Hmmm.. Tau ga, sob, keluarga Middleton menyumbangkan dana sebesar USD 100ribu atau Rp 859.750.000), ih waawww.. Tapi kita disini ga akan ngebahas betapa royalnya pernikahan itu kok, sob :D

Nah.. Setelah penulis menelusuri berbagai referensi, ada positive things yang bisa diambil sebagai bahan pembelajaran buat kita dari keluarga Middleton. Apaan emang?

Gini, guys.. Dulu keluarga Middleton ga sekaya dan sejaya sekarang. Ibunda Kate berasal dari keluarga penambang batu bara di Durham sedangkan ayahnya berasal dari keluarga pedagang wol yang lebih baik taraf ekonominya.

Kakeknya Kate bekerja sebagai sopir kemudian pegawai bangunan, bisa ditebak dong, sob, kalo mereka bukan dari keluarga yang bergelimang harta? ^^ Karena itulah, Carole (ibunya Kate) punya ambisius yang cukup tinggi buat memperbaiki kehidupan keluarganya. Beliau senantiasa bekerja keras, awalnya bekerja sebagai pramugari (dan di pekerjaan ini pula ketemu sama ayahnya Kate alias Michael, karena beliau adalah seorang pilot).

Setelah itu, Carole mulai mendulang sukses saat punya bisnis pengantaran barang. Then, sepasang suami istri itu membuat usaha kecil-kecilan pada tahun 1987, Party Pieces, jualan pernak-pernik pesta dengan harga murah. Pada tahun 2002, laba perusahaan mereka meningkat dengan pesat setelah meluncurkan situs supaya bisa jual-beli online, sehingga bisa menyekolahkan anak-anaknya di sekolah serta kampus yang elite.

Tapi, meskipun udah tajir, Michael ga lantas jadi terlarut dalam kekayaan dan kemewahan, sebaliknya, kesederhanaan tetap melekat pada dirinya. Hal inilah yang diwarisi Kate, sehingga dia juga sederhana dalam kesehariannya :)

Coba, sob.. Kalo kita renungkan sesaat, seandainya mereka ga bekerja keras dan pasrah aja tanpa melakukan usaha apapun, mungkin keturunannya ga ada yang bakal nikah sama seorang anggota keluarga kerajaan, karena anggota keluarga kerajaan ga akan sembarangan milih menantu..

Begitu pun dengan kita, sob. Kalo kita punya mimpi, cita-cita, kita ga usah skeptis dan apatis dulu deh, rugiiiiiiiiiii... Justru sebaliknya, kita harus ‘tahan banting’ kalo mau sukses dan menggapai impian-impian kita. Orangtuanya Kate Middleton aja bisa kok berjuang dari bawah, tentunya kita juga bisa dong, apalagi kita masih muda; lebih kreatif dan energik :D

So.. Ga ada yang ga mungkin, sob! Selama ‘hayat masih di kandung badan’, hukumnya WAJIB bagi kita buat ikhtiar semaksimal mungkin, jauh-jauh deh dari hal-hal negatif. Misalnya buat yang pengen jadi pengusaha sukses, kemudian ada orang lain yang bilang ‘ah.. lu ga mungkin bisa jadi pengusaha sukses, selamat ngayal aja deh, lu!’, jangan langsung down! Tapi malah jadi pemacu buat kita membuktikan bahwa kita bisa, kok!

Semangat buat mencapai sukses itu kadang emang mengalami pasang-surut, sobat.. Tapi inget-inget lagi deh surat Ar-Ra’d ayat 11, “Allah tidak akan mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan pada diri mereka sendiri”, makanya kita harus pake metode DUIT alias Do’a, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal dalam perjalanan menuju impian-impian kita itu, guys :D

BE POSITIVE TO REACH OUR DREAMS!

21.4.11

Sedikit Ocehan tentang Kebersihan

Hari ini kami sebagai mahasiswa jurusan Pendidkan Geografi mengadakan Aksi Hari Bumi, hari bumi nya sih tanggal 22 April, tapi karena tanggal merah, jadi kami memperingati hari buminya tanggal 21 April. Hehehe.

Aksinya itu berupa orasi dan aksi nyata membersihkan sampah di sekitar kampus UPI yang ternyata eh ternyata banyak sekali. Hohoho.Beberapa kali juga kami mendapat pertanyaan menggelitik emosi dari para pedagang (karena hari ini wisuda kampus daerah, jadi banyak pedagang gitu deh, mirip di gasibu). Such as, "Neng, jauh-jauh kuliah di Bandung kok cuma jadi tukang sampah?" #gue asli bandung, pak :P
Hahahaha, rasanya pengen nimpuk itu pedagang, astaghfirullah --"

Ahh.. Miris sekali rasanya, saya dan teman-teman amat sangat heran, mengapa orang-orang senang sekali membuang sampah seenaknya? Sungguh, bukankah kampus adalah tempat 'berkeliarannya' manusia-manusia terpelajar dan terpandang? ><"

Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman? Lantas bila sebagian dari keimanannya saja sudah tidak dipedulikan lagi, jangan salahkan bila dewasa ini terjadi dekadensi akhlak dan krisis keimanan yang menuju taraf 'akut' di negeri ini, heuheuheu.

Selain itu juga, menurut penulis yang imut dan baik hati ini #masih sempet narsis XD, 'menyimpan' sampah pada tempatnya juga berhubungan dengan rasa estetika. Karena setiap manusia memiliki rasa estetika, maka membuang sampah sembarangan dan mengotori lingkungan tentu tidak selaras dengan rasa estetika itu sendiri bukan? Hmm.. Ternyata, degradasi rasa estetika pun sedang terjadi di bumi pertiwi ini x(

Okay,

Sudah saatnya kita melakukan perubahan, kawan! Mulai aja yuk dari sendiri, detik ini juga kita 'simpan' sampah pada tempatnya (kalo bisa sih pisahkan juga sampah organik dengan anorganik), terus ya sebisa mungkin pungut sampah yang kita temui kalo lagi jalan misalnya, dan masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan.

Come on, guys! Kalo bukan kita yang beraksi, lalu siapa lagi?
WE ARE THE AGENT OF CHANGE!!!

Let's save our earth! \^o^/


Bandung, 18 Jumadil Awal 1432 H


7.3.11

Masihkah Kita Enggan untuk Memberi?

Sepulang kuliah, saya bertemu dengan salah seorang kawan yang inspiratif dan tergolong imut, but of course, penulis note inilah yang paling imut, hahaha #dezigh! langsung ditimpuk rame-rame pake sendal sama para pembaca XD

Dia habis berbelanja dari sebuah pasar swalayan.. dan bercerita tentang hal yang membuatnya miris sekaligus takjub.

Selesai belanja, ada anak kecil penjual cireng mentah yang menawarkan dagangannya, cirengnya itu dibawa dengan cara dipanggul gitu. Kebetulan disitu juga ada nenek-nenek, tapi belum begitu renta, dan sudah berdiri sejak lama di depan swalayan sambil megang mangkuk di tangannya #ngemis maksudnya.

And you know, si nenek bilang gini sama anak kecil itu, “Kaditu sia! Kaditu jauh-jauh, ulah ngahalangan urang!” (“Kesana kamu! Kesana jauh-jauh, jangan menghalangi saya!”) dengan nada kasar dan mata melebar.

Woww.. terang aja temen saya itu langsung ilfeel sama si nenek, dan si anak kecil langsung mengikuti dia yang berjalan menuju tempat penitipan barang.

“Tunggu sebentar ya, de” kata temen saya.

Setelah mengambil tas, temen saya langsung ngambil uang Rp 5.000,00 buat si anak kecil tadi, karena temen saya itu emang niat mau belajar mengeluarkan zakat atas uang mingguan yang diterimanya (2,5% x Rp 200.000,00 = Rp 5.000,00). Tapi ehh.. anak kecilnya malah menghilang.

Setelah itu, dia muter-muter dulu nyari sang bocah, poko’nya dia ngga mau pulang dulu sebelum ketemu anak itu dan ngasih uangnya. Wehehe.. dan, voila! Ketemu deh sama anak yang tadi,

“Ini buat ade aja :)”

Si ade nya ‘cengo’, sambil bilang makasih pelan-pelan. Temen saya pun pergi dengan hati tenang #cirengnya mah ngga beli, hehehe.

“Emang ga sayang gitu ngasih Rp 5.000,00?” #halah, pertanyaan konyol, na -,-“ secara, uang segitu cukup buat ongkos dari cicaheum ke kampus atau 1 porsi makan di gerlong :P itungan pisan si tina, adatna tukang pulsa ini mah >.<”

“Ngga.. Malah sepertinya yang saya kasih itu ngga sebanding sama pelajaran yang udah anak itu kasih ke saya secara ngga langsung. Saya jadi tersadar untuk senantiasa bersyukur atas apa yang Allah kasih ke saya saat ini, saya punya orangtua yang masih mampu untuk membiayai segala kebutuhan saya, sedangkan anak itu, bahkan untuk makan sehari-hari pun mungkin tak menentu. Tapi saya berdo’a, semoga Allah senantiasa melindungi anak itu dan menjadikannya seorang ksatria sejati yang berguna bagi ummat, karena Allah tau seberapa besar perjuangan dan kegigihannya di usia yang masih sangat belia..”

Subhanallah.. sekarang giliran saya yang ‘cengo’ mendengar perkataan temen saya tersebut. Eta pisaaannn... Kalo lagi futur, bener-bener rasa syukur teh serasa menguap tanpa sisa, astagfirullah..

Setelah itu, di perjalanan pulang, saya merenungi kisah temen saya tadi, hmm.. jangan segan deh kalo mau memberi sama orang lain, toh sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya, bukan? Sekecil apapun manfaat itu :D

Ehh.. kenapa serasa ada yang janggal ya? #terlintas di sela-sela renungan di angkot

Huaaaaaaa..... Tabung ‘ajaib’ berisi buku gambar A3 ku ketinggalan di lab. Lantai 3!!! Astagfirullahaladzim, naaaaa >o<

Gaswat, itu buku gambar buat matkul kosmo, ‘separuh jiwaku’ T.T Aihhh... Semoga masih jadi rezeki saya, sehingga besok bisa ketemu, aamiin >.< 

One more important point, guys, syukurilah hidup anda yang tidak dipenuhi hal-hal konyol seperti yang dialami penulis imut ini setiap harinya #lagi stress, masiiiihhhh aja narsis, plis deh, na :P

Epilognya rada nyeleneh, ya? Hehe. Maaf ^^v

Semoga ada hikmah yang bisa diambil dari note ini dan diimplementasikan dalam kehidupan sahabat-sahabat sekalian.


So, masih enggan untuk memberi? Hmm.. Ngga lha, ya! :D

Wallahu a’lam bisshawab.

2 Rabi’ul Akhir 1432 H

1.3.11

Refleksi Sederhana :)

Bismillah...

Ada masa dimana dalam menjalani hidupnya, jalan yang ditempuh manusia tidak akan selamanya mulus dan bebas hambatan. Kita harus memiliki persiapan ekstra untuk menempuh jalan yang lebih terjal, berliku, dan tidak nyaman. Kadang karena kesalahan sebesar atom saja, kita akan mudah rapuh, jatuh dan kesakitan, namun mau tak mau kita harus segera bangkit.

Itulah saat dimana diri kita membutuhkan sebuah perbaikan...

Karena alangkah lebih baik menjadi manusia yang senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas dirinya meskipun hanya setitik demi setitik, daripada menjadi manusia yang sudah merasa cukup baik, bahkan sempurna, hingga lalai karena berleha-leha.

Bukankah sebuah intan itu harus digosok dengan sangat keras sehingga menjadi batu mulia yang kilaunya tak tertandingi sejagad raya? Sehingga perbaikan-perbaikan ini pun semoga menjadi anak tangga menuju generasi keemasan dengan peradaban yang luar biasa di masa depan, aamiin :)

Semangat!!! \^o^/

“... Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri ...” 
(Q.S. Ar-Ra’d : 11)

Wallahu a’lam bisshawab.



Sebuah refleksi sederhana :)

26 Rabi’ul Awal 1432 H


© KATATINA
Maira Gall